Resensi Buku JAWARA : Angkara di Bumi Krakatau karya Fatih Zam




Judul Buku                   : Jawara, Angkara di Bumi Krakatau

Penulis Buku               : Fatih Zam

Penerbit Buku             : Metamind, Tiga Serangkai

Tahun Terbit               : Desember, 2011

Pencetak                      : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Jumlah Halaman       : 530 halaman

ISBN                             :  978-602-9251-09-8

Tebal Buku                  : 20 cm

Harga Buku                : Rp 60.000.00,-


Sinopsis :


Di tanah Banten, nama Jawara sangatlah terkenal. Ia menjadi pemilik ilmu bela diri ciri khas Banten  dan juga sebagai tameng penjaga ulama yang sedang mensyiarkan Islam. Pihak pesantren dan padepokan persilatan dalam talian persaudaraan yang damai. Namun, perdamaian itu mulai terusik karena terdapat oknum yang memakai nama jawara  yang merusak keamanan daerah serta mengancam akan menyerbu pesantren. 

Santri dan kiai pun mulai waspada ketika tahu masyarakat mulai resah dengan kerusuhan yang akan dilakukan ‘oknum’ tersebut. Mereka ingin menghancurkan seluruh pesantren di tanah Banten. Jaka memerlukan ilmu bela diri untuk mempertahankan pesantren dan mengalahkan Angkara, nama yang selalu disebut oleh para begundal yang terkenal hebat ilmunya. Menurut cerita masyarakat, Angkara hanya bisa dikalahkan dengan memahami ilmu di sebuah kitab yang bernama Cikadeunlah. Jaka berharap dengan berbekal ilmu dari Kakek Lie Ching, Ia bisa mendapatkan Kitab Cikadeunlah.

Penulis tidak hanya mengisahkan tentang pencarian Kitab Cikadeunlah. Terdapat kisah lain yang menceritakan tentang Gojali dan Saefudin. Mereka adalah dua sahabat. Gojali yang akan menikah dengan Sumi harus gagal karena Sumi tidak ingat dengan Gojali, alias lupa. Kabarnya, dia lupa karena mendapat pelet dari Ki Johani.

Kelebihan dari buku Jawara ini adalah sang penulis, Fatih Zam, mampu menuliskan kisah silat yang sangat menarik yang membuat bagian cerita ada di depan pembaca. Selain itu pembaca akan mengetahui seluk beluk Banten, misteri jawara, dan golok sebagai senjata khas Banten. Buku setebal 530 halaman layak Anda baca yang suka dengan cerita silat. Buku ini disajikan menggunakan kata-kata yang sangat baik sehingga Anda dapat mudah memahami dan menikmati isi cerita.

Di samping kelebihan buku tersebut, terdapat kekurangannya juga. Di antara dua kisah di atas, di akhir kisah, Fatih Zam tidak memberikan korelasi. Selain tidak ada benang merah di antara kedua kisah di atas, kedua kisah tersebut juga memiliki akhir cerita yang menggantung dan di akhiri dengan meletusnya gunung Krakatau. Novel ini juga tidak menguak siapakah Angkara itu sebenarnya. Pertanyaan lain, kisah pertarungan tiba-tiba sudah selesai. Sangat disayangkan, jika epilogue novel lebih jelas tentu lebih menarik.

Sumber :

  1. http://library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=45227&keywords=JAWARA
  2. https://www.academia.edu/19121192/Kekayaan_Budaya_Banten_yang_Terepresentasi_dalam_Novel_Jawara_Angkara_di_Bumi_Krakatau_Karya_Fatih_Zam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Ilmu

Tak Terpuisikan