Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Tak Terpuisikan

Puisiku kini terdengar kacangan Tak kutemukan lagi pengandaian Ketika kucoba menuliskan Kagum tentangmu Puisiku kini terdengar picisan Tak kutemukan lagi analogi Ketika coba menuliskan Asa terhadapmu Puisiku kini terdengar murahan Tak kutemukan lagi kata sanjung Ketika coba menuliskan Betapa berharganya dirimu Puisiku kini terdengar gombal Tak lagi kutemukan pujian Ketika coba menuliskan Hangatnya pribadimu Puisiku kini terdengar menggelikan Tak kutemukan lagi kata agung Ketika coba menuliskan Betapa magnet kharismamu Menarik jiwa ragaku Bahkan puisiku kini kehabisan kata Ketika kucoba menuliskan Apa yang ada di benak dan kalbuku Jadi... Tak perlulah ku tulis puisi Aku hanya perlu buktikan Bahwa kau... Adalah segala apa yang ku pinta pada Sang Pencipta

Ruang Ilmu

Segalanya membaik dengan ilmu Membuat hidup menjadi bermutu Tentu saja dengan bantuan para guru Yang selalu kita gugu Terima kasih Bapak Ibu Kita berada di suatu ruang Tempat bersama dan berjuang Ruang tiru, samudra ilmu Termasuk urusan kalbu Membuatku bebas dari belenggu Engkau sekolahku, Ruang Ilmu Sekolahku, ruang Ilmu Bersih bak lautan biru Suasana yang hangat slalu menyambutku Semangat ku kian menggebu Untuk menuntut ilmu Sekolahku, ruang ilmu Tampak indah di mata Pohon pohon yang berdansa Sejuknya pagi yang menerpa Cahaya Fajar yang cerah Rasa rindu akan slalu ada Pada suasana fana yang tercinta Sekolahku, Ruang Ilmu Telah tiba masa ku Fokus dalam waktu, pikiran, dan tenaga Sekolah jadi markas utama Menentukan langkah selanjutnya Demi menggapai cita dan asa Untuk aku... kamu... Kita... SMA satu...

Khianat

Degup mengencang Kala detak berteriak lantang Dentangkan kalimat yang sebelumnya selalu rumpang Rumpang tak terselesaikan karena kata yang hilang Hingga yang terbingkai hanya bayang usang tak terbuang Tentang kau yang pulang ... Tapi kau ...tetap tak bisa ku jelang Kau nadir diantara bulir takdir Puisi hidup yang terlahir dari Sang Maha Penyair Namun tafsir fakir getir mencibir Aku yang tersihir Oleh fikir pandir ... yang tak sanggup kuusir Mencari dalih untuk beralih Dari asih perih yang gigih enggan menyisih Asih tanpa pamrih yang tak letih tertatih Menata hati ringkih yang pedih oleh lirih nyanyian sedih Rasa yang tak terpilih Coba berdelik kelabui detik Jiwa terusik hendak laut kucabik Saat badik rasa ...sembarang membidik asa Luka hati gemakan pekik lara Muntahkan lirik picik Ini epik pelik...yang tak mungkin berakhir ...apik